Wednesday, January 2, 2013

JOMBLO

Tuhan Allah berfirman : " Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia".
(Kejadian 2:18)

Ayat ini sungguh amat popluler, bahkan banyak dari kita mengatakan ini ayat para JOMBLOWAN DAN JOMBLO WATI, walaupun sebenarnya mempunyai pengertian yang sangat luas yaitu RELATIONSHIP, baik dengan keluarga,lingkungan,istri atau suami dsb.

dalam ayat ini dikatakan " tidak baik seorang diri"  artinya apabila kita sudah mepunyai pasangan hendaklah menikah, agar klkitab berkata "berdua lebih baik darin pada sendiri karena bisa saling mengingatkan dan menasehati.

Namun Rosul Paulus berpendapat MENJOMBLO jauh lebih baik...lho apa maksudnya ? kelihatannya berlawanan, ingat yang dimaksud Paulus adalah apabila kita tidak terikat dengan seseorang sendiri itu lebih baik, sehingga dapat dengan sunggun melayani Tuhan, JADI MENJOMBLO ITU JAUH LEBIH BAIK, tapi dengan syarat PARA JOMBLOWAN DAN JOMBLOWATI, TIDAK TERIKAT DENGAN SESEORANG, BAHKAN MEMBAYANGKAN SESEORANG DAN MENGINGINKANNYA.

Saya berdoa PARA JOMBLOWAN DAN JOMBLOWATI suatu saat nanti dipertemukan Tuhan seseorang yang benar-benar, menjga,memelihara hidup kita....Gbu All

KASIH TAK PERNAH GAGAL


 Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengha-rapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (1Korintus 13:13)

Penyair Archibald MacLeish berkata bahwa "seperti halnya sinar, kasih menjadi lebih baik di kegelapan". Ia menyebut hal ini sebagai "hikmat terakhir di sore hari". Hal yang sama berlaku atas kasih kita kepada satu sama lain; kasih dapat menjadi lebih baik saat kita menua
 .
Saya telah melihatnya sendiri pada dua teman saya yang sudah lanjut usia.
Mereka sudah menikah selama lebih dari 50 tahun, namun masih sangat saling mencintai. Yang satu hampir meninggal karena mengidap kanker pankreas; sedang yang lainnya hampir meninggal karena Parkinson. Minggu lalu saya melihat ELISABET membungkuk ke ranjang IWAN menciumnya, dan berbisik, "Aku mencintaimu." IWAN menjawab, "Engkau cantik."
Saya merenungkan pasangan-pasangan yang telah mengabaikan pernikahan mereka, yang tidak mau bertahan dalam situasi baik atau buruk, sakit atau sehat, miskin atau kaya, dan saya sedih melihat mereka. Mereka akan kehilangan kasih seperti yang dinikmati oleh kedua teman saya di tahun-tahun terakhir mereka.
Saya telah menyaksikan IWAN dan ELISABET selama bertahun-tahun, dan saya tahu bahwa iman yang dalam kepada Allah, komitmen seumur hidup, kesetiaan, dan kasih yang menyangkal diri adalah tema utama dari pernikahan mereka. Mereka mengajarkan kepada saya bahwa kasih yang sejati tidak pernah menyerah, "tidak pernah gagal". Kasih mereka adalah "hikmat terakhir di sore hari", dan akan berlanjut sampai akhir. Kiranya kita menyatakan kasih yang tak berkesudahan serupa itu kepada mereka yang mengasihi kita -

TERANG YANG MENGEJUTKAN



Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22-23)
Bacaan : Ratapan 3:16-33
Bila Anda pernah merasakan kesedihan yang luar biasa sampai tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, Anda akan dapat memahami dengan baik bagaimana perasaan Yeremia seperti yang diungkapkannya dalam kitab Ratapan. Kitab tersebut berisikan nyanyian ratapan untuk keruntuhan Yerusalem dan rakyatnya yang ditawan karena dosa-dosa mereka. Airmata "ratapan nabi" seolah terpercik di setiap halaman kitab itu.
Akhir-akhir ini, pada saat membaca kitab Ratapan, saya senantiasa turut larut dalam kehancuran dan kesedihan yang digambarkan oleh Yeremia. Sebuah ayat yang tak asing lagi tiba-tiba menggugah hati saya. "Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!" (3:22,23)
Ayat tersebut sering dikutip secara terpisah sehingga saya melupakan konteks kepedihan yang terkandung di dalamnya. Di tengah kepedihan hati Yeremia, ayat itu menyinarkan pengharapan dan terang yang tak diduga.
Mungkin ada masa-masa dalam kehidupan kita yang segalanya seolah terasa lenyap dan kita tenggelam dalam lembah keputusasaan. Namun dalam kesedihan kita yang sangat dalam, sering kali kita dikejutkan oleh terang kasih Allah yang terpancar tiada berkesudahan. Kemudian dengan anugerah dan kemurahan hati-Nya, kita dapat menggemakan kata-kata Yeremia: "`Tuhan adalah bagianku,' kata jiwaku, oleh sebab itu aku berharap kepada-Nya!'" (ayat 24)