Tuhan Allah berfirman : " Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia".
(Kejadian 2:18)
Ayat ini sungguh amat popluler, bahkan banyak dari kita mengatakan ini ayat para JOMBLOWAN DAN JOMBLO WATI, walaupun sebenarnya mempunyai pengertian yang sangat luas yaitu RELATIONSHIP, baik dengan keluarga,lingkungan,istri atau suami dsb.
dalam ayat ini dikatakan " tidak baik seorang diri" artinya apabila kita sudah mepunyai pasangan hendaklah menikah, agar klkitab berkata "berdua lebih baik darin pada sendiri karena bisa saling mengingatkan dan menasehati.
Namun Rosul Paulus berpendapat MENJOMBLO jauh lebih baik...lho apa maksudnya ? kelihatannya berlawanan, ingat yang dimaksud Paulus adalah apabila kita tidak terikat dengan seseorang sendiri itu lebih baik, sehingga dapat dengan sunggun melayani Tuhan, JADI MENJOMBLO ITU JAUH LEBIH BAIK, tapi dengan syarat PARA JOMBLOWAN DAN JOMBLOWATI, TIDAK TERIKAT DENGAN SESEORANG, BAHKAN MEMBAYANGKAN SESEORANG DAN MENGINGINKANNYA.
Saya berdoa PARA JOMBLOWAN DAN JOMBLOWATI suatu saat nanti dipertemukan Tuhan seseorang yang benar-benar, menjga,memelihara hidup kita....Gbu All
Wednesday, January 2, 2013
KASIH TAK PERNAH GAGAL
Demikianlah tinggal ketiga hal ini, yaitu iman, pengha-rapan dan kasih, dan yang paling besar di antaranya ialah kasih (1Korintus 13:13)
Penyair Archibald MacLeish berkata bahwa "seperti halnya sinar, kasih
menjadi lebih baik di kegelapan". Ia menyebut hal ini sebagai "hikmat
terakhir di sore hari". Hal yang sama berlaku atas kasih kita kepada
satu sama lain; kasih dapat menjadi lebih baik saat kita menua
.
Saya telah melihatnya sendiri pada dua teman saya yang sudah lanjut usia.
.
Saya telah melihatnya sendiri pada dua teman saya yang sudah lanjut usia.
Mereka sudah menikah selama lebih dari 50 tahun, namun masih sangat
saling mencintai. Yang satu hampir meninggal karena mengidap kanker
pankreas; sedang yang lainnya hampir meninggal karena Parkinson. Minggu
lalu saya melihat ELISABET membungkuk ke ranjang IWAN menciumnya,
dan berbisik, "Aku mencintaimu." IWAN menjawab, "Engkau cantik."
Saya merenungkan pasangan-pasangan yang telah mengabaikan pernikahan
mereka, yang tidak mau bertahan dalam situasi baik atau buruk, sakit
atau sehat, miskin atau kaya, dan saya sedih melihat mereka. Mereka
akan kehilangan kasih seperti yang dinikmati oleh kedua teman saya di
tahun-tahun terakhir mereka.
Saya telah
menyaksikan IWAN dan ELISABET selama bertahun-tahun, dan saya tahu
bahwa iman yang dalam kepada Allah, komitmen seumur hidup, kesetiaan,
dan kasih yang menyangkal diri adalah tema utama dari pernikahan
mereka. Mereka mengajarkan kepada saya bahwa kasih yang sejati tidak
pernah menyerah, "tidak pernah gagal". Kasih mereka adalah "hikmat
terakhir di sore hari", dan akan berlanjut sampai akhir. Kiranya kita
menyatakan kasih yang tak berkesudahan serupa itu kepada mereka yang
mengasihi kita -
JANGAN MENUNDA UNTUK MENGUCAPKAN KATA-KATA KASIH
YANG DAPAT ANDA UCAPKAN HARI INI
YANG DAPAT ANDA UCAPKAN HARI INI
TERANG YANG MENGEJUTKAN

Tak berkesudahan kasih setia Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu! (Ratapan 3:22-23)
Bacaan : Ratapan 3:16-33
Bila Anda pernah merasakan kesedihan yang luar biasa
sampai tak mampu mengucapkan sepatah kata pun, Anda akan
dapat memahami dengan baik bagaimana perasaan Yeremia
seperti yang diungkapkannya dalam kitab Ratapan. Kitab
tersebut berisikan nyanyian ratapan untuk keruntuhan
Yerusalem dan rakyatnya yang ditawan karena dosa-dosa
mereka. Airmata "ratapan nabi" seolah terpercik di setiap
halaman kitab itu.
Akhir-akhir ini, pada saat membaca kitab Ratapan, saya
senantiasa turut larut dalam kehancuran dan kesedihan yang
digambarkan oleh Yeremia. Sebuah ayat yang tak asing lagi
tiba-tiba menggugah hati saya. "Tak berkesudahan kasih setia
Tuhan, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi;
besar kesetiaan-Mu!" (3:22,23)
Ayat tersebut sering dikutip secara terpisah sehingga
saya melupakan konteks kepedihan yang terkandung di
dalamnya. Di tengah kepedihan hati Yeremia, ayat itu
menyinarkan pengharapan dan terang yang tak diduga.
Mungkin ada masa-masa dalam kehidupan kita yang
segalanya seolah terasa lenyap dan kita tenggelam dalam
lembah keputusasaan. Namun dalam kesedihan kita yang sangat
dalam, sering kali kita dikejutkan oleh terang kasih Allah
yang terpancar tiada berkesudahan. Kemudian dengan anugerah
dan kemurahan hati-Nya, kita dapat menggemakan kata-kata
Yeremia: "`Tuhan adalah bagianku,' kata jiwaku, oleh sebab
itu aku berharap kepada-Nya!'" (ayat 24)
UJIAN KEHIDUPAN YANG TERGELAP SEKALIPUN
TAKKAN MAMPU MEREDUPKAN TERANG KASIH ALLAH
TAKKAN MAMPU MEREDUPKAN TERANG KASIH ALLAH
Subscribe to:
Posts (Atom)

